23 Juni 2009 genap usiaku 38 tahun.
Hari ini istri dan anak ku menelpon mengucapkan selamat ultah.
Tante Franklin yang di Tulungagung juga mengucapkan selamat padaku.
Perhatian mereka menguatkan hatiku.
Alangkah indah bila kita saling memberi perhatian
kejadian di hari ini memberi pelajaran bagiku
" Jangan hanya meminta, tetapi aku juga harus memberi "
Thank's God !!!!!!!!!!!
Selasa, 23 Juni 2009
Sabtu, 20 Juni 2009
MEMORI DI SMAN 1 TEJAKULA
Semua berawal pada 10 februari 1994. Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan sampailah aku dipulau bali yang terkenal itu. Tanpa menemukan kesulitan akhirnya aku sampai di tujuan. Tejakula sebuah desa sekaligus ibu kota kecamatan, suatu tempat yang indah dan asri.
Aku di tugaskan oleh Negara untuk mengabdi di SMAN 1 Tejakula sebagai guru kimia.
SMAN 1 Tejakula adalah sebuah sekolah yang kecil (pada waktu itu) tetapi, penuh gaya dan kaya cinta. Di sebelah selatan sekolah terpampang megah bukit, dimana terdapat pura Kuang dilerengnya. Di sebelah utara terdengar deburan ombak pantai utara. 40 batang pohon mangga produktif tumbuh di areal sekolah, menambah asrinya suasana sekolah.
Aku datang di sore hari, waktu itu aku diterima oleh Bpk. Drs. Made Sutama yang waktu itu tinggal di mes sekolah (terakhir beliau tinggal di depan kantor Polsek Tejakula) kemudian oleh beliau aku diantar ke Pak Gatot (Sekarang aktif di SMPN Kare Madiun). Dan akhirnya aku menginap dikontrakan beliau bersama pak Nyoman Suardana (Akhirnya aku tinggal disana).
Di pagi harinya ketika kulangkahkan kakiku ke sekolah, telah tersuguh suatu suasana familiar dimana guru dan pegawai sedang bercengkrama di beranda. Siswa bersenda gurau diantara kelas-kelas. Aku diterima dengan baik oleh Kasek Bpk. I Wayan Martha, B.A. berikut nama-nama rekan Guru yang aku ingat :
1. Drs. Ketut Sujarsa (Teman dam saudaraku)
2. Nyoman Suardana, S.Pd (Semangat dan disiplin)
3. Made Santika, S.Pd (Teman Seperjuanganku)
4. Gede Suarjaya, S.Pd (Pintar, tertib)
5. Ni Ketut Andriani, S.Pd (Pintar bikin Plecing)
6. Drs. Made Artha (Lucu, Familiar)
7. Drs. Ketut Yuta (Tekun )
8. Ichwan Afandi, S.Pd (Teman Curhatku)
9. Drs. Made Sudartha (Smart)
10. Ketut Sudiana, S.Pd (Ahli Koperasi)
11. Drs. Made Sutama ( Pekerja yang ulet)
12. Made Puja Astawa S.Pd (Karibku satu atap)
Dll
Banyak kenangan di SMAN 1 Tejakula, kisah sedih, suka, kisah penuh gelora, kisah cinta disekolah. Karena aku akrab dengan siswa maka aku diserahi tugas menjadi Pembina PMR, kemudian ketika sekolah merintis pendirian sispala (siswa pecinta alam) aku di tunjuk menjadi pembina sampai akhirnya aku pindah.
Bhuana Raksaka (Penjaga Kelestarian Alam) itulah nama sispala SMAN 1 Tejakula. Menjadi Pembina sispala, akhirnya banyak membentuk karakterku dan menambah pengalamanku dalam mengelola konflik dalam organisasi siswa. Bhuana Raksaka sangat membekas di hatiku, disini aku menemukan siswa-siswa yang penuh potensi, dengan multi talenta. Disini aku bergaul dengan banyak siswa yang di katagorikan bermasalah dalam prilaku, tetapi akhirnya menjadi baik. Sebagai Pembina aku merasa sangat di hargai dan di hormati. Disini aku juga belajar untuk mengerti siswa – siswaku.
Bhuana Raksaka adalah pencapaianku yang luarbiasa. Tempat aku belajar menjadi seorang pendidik yang sebenarnya. Engkau siswa-siswaku yang tak pernah lepas dari hatiku. Aku masih mengenang saat-saat indah bersama mereka. Kelaparan di hutan bedugul, tersesat di bukit Koang, mejelajah di pinggir pantai penutukan tejakula. Semua kenangan itu tetap terukir di hatiku.
Bhuana Raksaka apa saat ini masih eksis ? kuharap begitu. Siswa yang masih aku ingat :
1. Nyoman Darmawan ( siswaku yang paling setia )
2. Ngurah Nova ( si jangkung )
3. Ngurah Joni Mahardika ( Perwira Polisi/ Lulusan AKPOL)
4. Gede Purwa Wibawa Putra ( Perwira AL/Lulusan AAL)
5. Ketut Harry Junior ( ketua /Adik komang safitri putra kepala desa tejakula)
6. Komang Suartini ( ketua sispala/Adik dari luh Rita, Bondalem)
7. Wayan Suwenten ( Penyanyi/seniman)
8. Ketut Suwenten ( Batu Gambir)
9. Kadek Juniarta ( depan PLN)
10. Gede Subawa (Ketua/penuktukan)
11. Komang Sumerta ( Depan KUA)
12. Ketut Merta ada ( Si kapal terbang)
Bhuana Raksaka bravo, inilah sekelumit kenangan mu di hatiku, lain waktu aku sambung.
Aku di tugaskan oleh Negara untuk mengabdi di SMAN 1 Tejakula sebagai guru kimia.
SMAN 1 Tejakula adalah sebuah sekolah yang kecil (pada waktu itu) tetapi, penuh gaya dan kaya cinta. Di sebelah selatan sekolah terpampang megah bukit, dimana terdapat pura Kuang dilerengnya. Di sebelah utara terdengar deburan ombak pantai utara. 40 batang pohon mangga produktif tumbuh di areal sekolah, menambah asrinya suasana sekolah.
Aku datang di sore hari, waktu itu aku diterima oleh Bpk. Drs. Made Sutama yang waktu itu tinggal di mes sekolah (terakhir beliau tinggal di depan kantor Polsek Tejakula) kemudian oleh beliau aku diantar ke Pak Gatot (Sekarang aktif di SMPN Kare Madiun). Dan akhirnya aku menginap dikontrakan beliau bersama pak Nyoman Suardana (Akhirnya aku tinggal disana).
Di pagi harinya ketika kulangkahkan kakiku ke sekolah, telah tersuguh suatu suasana familiar dimana guru dan pegawai sedang bercengkrama di beranda. Siswa bersenda gurau diantara kelas-kelas. Aku diterima dengan baik oleh Kasek Bpk. I Wayan Martha, B.A. berikut nama-nama rekan Guru yang aku ingat :
1. Drs. Ketut Sujarsa (Teman dam saudaraku)
2. Nyoman Suardana, S.Pd (Semangat dan disiplin)
3. Made Santika, S.Pd (Teman Seperjuanganku)
4. Gede Suarjaya, S.Pd (Pintar, tertib)
5. Ni Ketut Andriani, S.Pd (Pintar bikin Plecing)
6. Drs. Made Artha (Lucu, Familiar)
7. Drs. Ketut Yuta (Tekun )
8. Ichwan Afandi, S.Pd (Teman Curhatku)
9. Drs. Made Sudartha (Smart)
10. Ketut Sudiana, S.Pd (Ahli Koperasi)
11. Drs. Made Sutama ( Pekerja yang ulet)
12. Made Puja Astawa S.Pd (Karibku satu atap)
Dll
Banyak kenangan di SMAN 1 Tejakula, kisah sedih, suka, kisah penuh gelora, kisah cinta disekolah. Karena aku akrab dengan siswa maka aku diserahi tugas menjadi Pembina PMR, kemudian ketika sekolah merintis pendirian sispala (siswa pecinta alam) aku di tunjuk menjadi pembina sampai akhirnya aku pindah.
Bhuana Raksaka (Penjaga Kelestarian Alam) itulah nama sispala SMAN 1 Tejakula. Menjadi Pembina sispala, akhirnya banyak membentuk karakterku dan menambah pengalamanku dalam mengelola konflik dalam organisasi siswa. Bhuana Raksaka sangat membekas di hatiku, disini aku menemukan siswa-siswa yang penuh potensi, dengan multi talenta. Disini aku bergaul dengan banyak siswa yang di katagorikan bermasalah dalam prilaku, tetapi akhirnya menjadi baik. Sebagai Pembina aku merasa sangat di hargai dan di hormati. Disini aku juga belajar untuk mengerti siswa – siswaku.
Bhuana Raksaka adalah pencapaianku yang luarbiasa. Tempat aku belajar menjadi seorang pendidik yang sebenarnya. Engkau siswa-siswaku yang tak pernah lepas dari hatiku. Aku masih mengenang saat-saat indah bersama mereka. Kelaparan di hutan bedugul, tersesat di bukit Koang, mejelajah di pinggir pantai penutukan tejakula. Semua kenangan itu tetap terukir di hatiku.
Bhuana Raksaka apa saat ini masih eksis ? kuharap begitu. Siswa yang masih aku ingat :
1. Nyoman Darmawan ( siswaku yang paling setia )
2. Ngurah Nova ( si jangkung )
3. Ngurah Joni Mahardika ( Perwira Polisi/ Lulusan AKPOL)
4. Gede Purwa Wibawa Putra ( Perwira AL/Lulusan AAL)
5. Ketut Harry Junior ( ketua /Adik komang safitri putra kepala desa tejakula)
6. Komang Suartini ( ketua sispala/Adik dari luh Rita, Bondalem)
7. Wayan Suwenten ( Penyanyi/seniman)
8. Ketut Suwenten ( Batu Gambir)
9. Kadek Juniarta ( depan PLN)
10. Gede Subawa (Ketua/penuktukan)
11. Komang Sumerta ( Depan KUA)
12. Ketut Merta ada ( Si kapal terbang)
Bhuana Raksaka bravo, inilah sekelumit kenangan mu di hatiku, lain waktu aku sambung.
Selasa, 16 Juni 2009
PUISI
Asa Dalam Kegetiran
Indahnya cahaya bulan diakhir februari
Membawa asa bergelora
Menerjang, menghancurkan , keraguan hati
Mengusir kegetiran jiwa yang tersisih
Aku tak mau hanya disini
Aku harus melangkah dan pergi
Pergi dari keterpurukan asa
Pergi dari ketiadaan arti diri
Biarkan angin membawa badai
Biarkan hujan bersambar petir
Tetap langkah ku pasti
Walau jalan licin dan berbatu
Tak peduli ribuan kali tolakan
Acuhkan oceh dan cemooh
Aku tak mau tetap disini
Aku harus mendaki, puncak nilai diri
By Mr. Rudy
Indahnya cahaya bulan diakhir februari
Membawa asa bergelora
Menerjang, menghancurkan , keraguan hati
Mengusir kegetiran jiwa yang tersisih
Aku tak mau hanya disini
Aku harus melangkah dan pergi
Pergi dari keterpurukan asa
Pergi dari ketiadaan arti diri
Biarkan angin membawa badai
Biarkan hujan bersambar petir
Tetap langkah ku pasti
Walau jalan licin dan berbatu
Tak peduli ribuan kali tolakan
Acuhkan oceh dan cemooh
Aku tak mau tetap disini
Aku harus mendaki, puncak nilai diri
By Mr. Rudy
PUISI
Burung Gelatikku
Lembut bagai salju, tatapan matamu
Kadang berbinar, berkeling nakal
Manis senyummu bak roti kismis
Menelpel indah, lesung pipitmu
Terurai semampai hitam rambutmu
Menyiram jenjang indah lehermu
Tak perlu rebonding, tak perlu di toning
Alami hitam berseri
Gemulai teratur langkah kaki
Menapak jalan terjal ke puncak asa
Dengan senyum dan ketulusan
Kau cabut setiap duri lukai kaki
Walau tak cantik nampakmu
Tapi tak juga jelek wajahmu
Kegigihan, ketulusan, kekuatan jiwa
Buatku tak jemu menatapmu
Lembut bagai salju, tatapan matamu
Kadang berbinar, berkeling nakal
Manis senyummu bak roti kismis
Menelpel indah, lesung pipitmu
Terurai semampai hitam rambutmu
Menyiram jenjang indah lehermu
Tak perlu rebonding, tak perlu di toning
Alami hitam berseri
Gemulai teratur langkah kaki
Menapak jalan terjal ke puncak asa
Dengan senyum dan ketulusan
Kau cabut setiap duri lukai kaki
Walau tak cantik nampakmu
Tapi tak juga jelek wajahmu
Kegigihan, ketulusan, kekuatan jiwa
Buatku tak jemu menatapmu
Kekerasan Di Sekolah Penyebab Dan Solusinya
Kekerasan dalam dunia pendidikan kembali terjadi. Satu bentuk kekerasan terjadi dilakukan siswa kepada siswa yang lain. Seorang siswa harus mendapatkan perawatan yang serius karena dikeroyok oleh teman satu sekolahnya. Bukan itu saja, kekerasan juga terjadi dan dilakukan oleh guru kepada siswanya. (radar bojonegoro 4 maret 2009). Sekolah yang seharusnya menjadi tempat untuk berprestasi, tetapi menjadi ajang premanisme. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat belajar tentang norma-norma kemasyarakatan yang baik, tetapi dijadikan rimba tanpa hukum. Siapa yang kuat, siapa yang berkuasa, siapa yang memimpin merekalah yang diatas dan memiliki legalitas untuk menindas yang lain. Kekerasan sering terjadi bukan dalam bentuk kekerasan fisik, tetapi juga kekerasan psikis. Hal-hal yang sepele dapat menjadi alasan untuk melakukan kekerasan. Bahkan terkadang kekerasan dilakukan tanpa alasan.
Mengapa terjadi kekerasan diantara siswa ? Kekerasan antar siswa merupakan bagian terbesar dari kasus kekerasan di sekolah. Kasus ini bagaikan gunung es, yang terekspos oleh media adalah kekerasan yang terlaporkan. Sedangkan kasus kekerasan yang tak pernah dilaporkan jumlahnya tentu lebih banyak. Siswa adalah individu yang sedang belajar. Belajar mengenali diri, dan juga belajar mengenali lingkungan. Kekerasan yang terjadi antar siswa, biasanya dipicu oleh pencarian jati diri siswa, disinilah kadang terjadi konflik psikologis dalam diri siswa yang apabila tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan masalah. Banyak cara yang ditempuh oleh siswa untuk menemukan jati dirinya. Pencarian jati diri yang positif siswa lakukan dengan cara berprestasi dan berkompetisi dalam bidang akademik maupun dibidang olah raga dan seni. Tetapi menjadi hal yang berbahaya bila pencarian jati diri ini mereka lakukan dengan adu kekerasan.
Guru harus berperan aktif dalam membina siswa yang terindikasi salah arah dalam pencarian jati diri ini khususnya guru konseling/BK. Tetapi kerjasama antara pihak sekolah dengan orang tua siswa merupakan formulasi yang tepat dalam menangani masalah kekerasan diantara siswa. Usia siswa yang masih remaja memerlukan perhatian yang cukup. Guru tidak mungkin sendirian menyelesaikan konflik psikologis dalam diri siswa. Perhatian dari orang tua akan sangat membantu dalam penyelesaian ini. Tetapi terkadang yang terjadi adalah sebaliknya, orang tua terlalu sibuk dengan urusan mereka dan kurang memperhatikan perkembangan psikologis anaknya. Ketika kemudian terjadi masalah, barulah mereka kelabakan. Kerjasama antara sekolah dan orang tua siswa dalam membantu mengelola konflik psikologis siswa dapat meredam kekerasan antar siswa.
Menjadi suatu pertanyaan besar jika kekerasan terjadi dari pihak guru kepada siswa. Hal ini sangat memalukan dunia pendidikan. Tetapi apakah benar guru melakukan kekerasan pada siswanya ? hal itu masih perlu dipertanyakan. Bila siswa berprestasi maka harus diberi hadiah dan bila siswa tidak disiplin atau melakukan penyimpangan prilaku, maka harus diberikan hukuman sebagai pembelajaran psikologis bagi siswa. Setiap guru mempunyai cara tersendiri dalam menyikapi pelanggaran disiplin/penyimpangan prilaku yang dilakukan oleh siswa. Ada sebagian guru yang cukup dengan memberikan hukuman berupa tugas-tugas akademik. Ada guru yang mungkin memberikan hukuman berupa perlakuan fisik, seperti menyuruh siswa berdiri didepan kelas, mencubit bagian tertentu di tubuh siswa (biasanya telinga), atau hukuman fisik lain yang sifatnya mendidik. Tetapi hal ini terkadang disalah tafsirkan sebagai suatu bentuk kekerasan.
Kalau toh terjadi kekerasan dalam arti yang sebenarnya, memang hal itu perlu disayangkan dan dipertanyakan. Mengapa hal itu terjadi ? mengupas jawaban dari pertanyaan ini tidaklah mudah, tetapi bila dirangkum jawaban itu menjadi suatu kesimpulan, maka kesimpulannya adalah “kekerasan terjadi karena kurang harmonisnya komunikasi antara siswa dan guru. Kekerasan terjadi juga karena kejenuhan psikologis guru”. Dua hal ini dapat menjadi pijakan bagi pencarian solusi agar kekerasan disekolah dapat diminimalkan.
Supaya terjalin komunikasi yang harmonis dan mengurangi kejenuhan maka harus ada suatu program penyegaran/refreshing bersama. Program penyegaran ini dapat dilakukan secara berkala. dalam program ini diharapkan ada sambung rasa antara guru dan siswa sehingga miskomunikasi dapat diminimalkan. Siswa jadi lebih memahami karakter dan pribadi gurunya, demikian juga sebaliknya. Program ini bukan hanya mempererat hubungan antar siswa dan guru, tetapi juga siswa dengan siswa.
Tidak perlu mengeluarkan dana yang besar untuk refreshing. Tidak perlu pergi kesuatu tempat yang jauh untuk berekreasi. Acara sederhana bisa menjadi sarana refreshing yang efektif. Berkebun, persami (perkemahan sabtu malam minggu), lomba memancing, membersihkan kelas bersama, jalan sehat, out bond sederhana dan masih banyak kegiatan yang dapat dilakukan bersama dengan biaya murah. Sesederhana apapun kegiatan yang dilakukan, tetapi jika setiap partisipan menyadari tentang pentingnya kegiatan itu, maka tujuan kegiatan akan tercapai.
“Kekerasan bukan solusi !
Mendengar, Memperhatikan dan Mengerti
adalah tindakan bijaksana yang akan menghapuskannya.”
Belajar IPA Terpadu Melalui Mulok Pertanian
Oleh: Rudy Indarto
Guru SMAN Kedungadem, Bojonegoro
Jawa pos Kamis, 12 Februari 2009
Guru SMAN Kedungadem, Bojonegoro
Jawa pos Kamis, 12 Februari 2009
Bukan tugas ringan memilih mulok (pelajaran muatan lokal) yang tepat. Mulok yang merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi sesuai dengan ciri khas dan potensi daerah, termasuk keunggulan daerah, yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada. Di sekolah dengan lingkungan agraris, potensi yang menonjol adalah pertanian. Karena itu, ilmu pertanian bisa diangkat menjadi mulok. Untuk SMA, siswa IPS dapat mempelajari manejemennya, dari permodalan, penjualan, hingga pascapanen. Siswa IPA dapat memadukan sisi biologi, kimia, fisika. Siswa sering membedakan IPA berdasar suka dan tidak suka. Saat mempelajari ilmu pertanian, siswa dihadapkan pada situasi yang menuntut mereka, mau tidak mau, memadukan pengetahuan IPA mereka. Siswa tidak lagi melihat IPA secara sepotong-potong, tapi terkait. Siswa akan melihat bahwa IPA adalah satu-kesatuan sehingga tidak ada lagi bagian IPA yang tidak disukai siswa. Ambil contoh saat siswa mempelajari teknik menyambung untuk memperpanjang umur dan meningkatkan hasil tanaman terong. Siswa, antara lain, harus menemukan jenis tanaman apa yang cocok sebagai batang bawah. Dia juga harus memilih media tanam yang cocok, porositas tanah, drainase, dan teknik penyambungan yang baik. Semua saling terkait. Di sinilah kemampuan IPA siswa dipadukan Sebelum sesi praktik, siswa memilih tanaman yang baik sebagai batang bawah, yakni tanaman yang satu genus dengan terong. Pengetahuan itu mereka pelajari dalam klasifikasi tumbuhan (biologi). Siswa juga harus mempelajari media yang cocok. Artinya, siswa harus tahu tentang pH, zat hara, yang dipelajari dalam kimia. Mereka juga harus memperhatikan porositas tanah, kelembapan, teknik penyiraman, yang membutuhkan pengetahuan Fisika. Supaya sambungan antara batang bawah dan atas tidak mudah patah, siswa dihadapkan pada masalah sudut sambung yang harus sesuai dengan gaya berat. Ini memerlukan pengetahuan fisika. Untuk mengetahui bagian mana yang paling efektif untuk disambung (pucuk cabang atau kulit batang), siswa harus menguasai materi titik tumbuh tanaman dalam Biologi. Siswa juga harus tahu hormon pertumbuhan, pupuk, dan jumlah takaran zat hara yang tepat untuk pertumbuhan. Bagian terakhir ini memerlukan ilmu kimia, terutama materi perhitungan kimia. Pada sesi praktik, siswa terpacu melakukan percobaan. Mau tidak mau, mereka harus membandingkan beberapa kemungkinan dari variabel yang ada. Mana yang lebih baik, terong jenis A yang disambung dengan terong jenis B ataukah jenis C, dan seterusnya. Demikian juga pemilihan pupuk dan media. Tanpa disadari, proses tersebut akan membentuk pola pikir ilmiah. Bukankah pola pikir ilmiah itu yang mendasari IPA? Jika dasarnya telah terbentuk, siswa akan lebih mudah memperdalam pengetahuan tentang IPA. Itu hanya satu contoh materi dalam ilmu pertanian yang dapat membantu siswa mempelajari IPA secara terpadu. Materi lain juga memiliki karakter sama. Dengan mulok pertanian, siswa bisa mempelajari IPA secara terpadu dan menyeluruh, tidak sepotong-potong. (soe)KutipanSaat praktik teknik menyambung tanaman terong, siswa harus memilih batang bawah dari tanaman yang satu genus dengan terong (biologi). Memilih media perlu pengetahuan tentang pH, zat hara (kimia). Harus diperhatikan pula porositas tanah, kelembapan, teknik penyiraman (fisika).
Badai Itu Bernama UNAS
Bagaikan badai yang bergelora di pagi hari, demikian berita di jawa pos 01 Juni 2009 tentang 19 SMA di tanah air tidak lulus Unas 100 %. Belum reda kepedihan hati mendengar tragedi ini, besoknya ada berita 33 sekolah di tanah air terbukti melakukan pelanggaran Unas (Jawa pos 02 Juni 2009). Semua yang terlibat dalam proyek besar Unas pada sibuk, saling tuding, saling menyalahkan. Bahkan tragedy ini menjadi bahan bagi para politikus untuk saling serang.
Gajah bertarung dengan gajah pelanduk mati di tengah tengah. Mungkin pribahasa inilah yang cocok untuk menggambarkan keadaan siswa yang tidak lulus Unas. Sementara para elit berpolemik tentang siapa yang disalahkan dalam kasus ini, siswa terkatung-katung nasibnya. Mereka yang saat ini telah mendaftar bahkan diterima di lembaga pendidikan baik negeri maupun swasta membutuhkan kepastian nasib kelulusan mereka.
Siapa yang paling bertanggung jawab dalam masalah ini. Sebagian besar orang berpendapat Pemerintahlah yang harus bertanggung jawab penuh atas kejadian ini. Sebab pelaksanaan Unas dari awalnya telah penuh dengan kontroversi. Banyak pihak – pihak yang menentangnya. Mulai dari siswa sebagai obyek, guru yang merasa dirampas haknya serta para pemerhati pendidikan mereka kompak menentang pelaksanaan Unas. Tetapi dengan semangat falsafah “ Meskipun anjing menggonggong khafilah tetap berlalu “ Unas tetap dilaksanakan. Dalam hal ini pemerintah menunjukan arogansinya. Pendapat dan masukan dari praktisi dan pemerhati pendidikan dianggap sebagai angin lalu. Kini ketika semua peyelewengan terjadi, maka pemerintah seakan kebingungan menentukan pemecahan dari masalah yang ada. Dengan arogan lagi beberapa birokrat menyatakan akan diadakan “Unas ulang “ untuk sekolah yang kelulusannya tidak 100 %. Unas ulang merupakan solusi yang menimbulkan masalah baru.
Pengulangan unas karena kecurangan adalah bentuk ketidakadilan bagi siswa lain yang juga tidak lulus tapi tidak mendapatkan hak istimewa itu. Jika pengulangan ini karena kesalahan tehnik, seperti rusaknya soal, Lembar Jawaban Komputer, atau karena bencana alam, maka hal itu bisa diterima banyak pihak. Itupun pengulangan hendaknya dilakukan pada mata pelajaran yang tidak dapat dilaksanakan itu, dan bukan semuanya. Tetapi jika kegagalan itu terbukti karena kecurangan, maka hal ini merupakan bentuk hukuman yang tepat bagi pelaku kecurangan. Kecurangan tidak akan bisa dilakukan hanya oleh pihak panitia, guru atau pengawas, tetapi pasti juga melibatkan siswa, jadi jika akhirnya siswa pelaku kecurangan tidak lulus, itu sudah menjadi resiko bagi dia. Kita bisa bayangkan berapa besarnya biaya yang akan dikeluarkan oleh Negara hanya untuk meluluskan mereka yang telah nyata melakukan kecurangan (menerima jawaban lewat sms).
Kecurangan tidak akan terjadi bila Unas tidak digunakan sebagai standart kelulusan. Alasan inilah yang selalu di pakai untuk melegalkan segala kecurangan yang terjadi. Walaupun sebenarnya Unas sudah dapat disiapkan lebih awal, bahkan hampir semua sekolah mempunyai program persiapan Unas lewat bimbingan belajar, atau try out yang sering diadakan baik oleh pihak sekolah maupun Dinas pendidikan setempat. Tetapi karena dari awal sudah ada persiapan dan niat untuk curang, maka sarana yang ada hanya digunkan sebgai sebuah formalitas. Banyak kenyataan suatu sekolah tidak lulus 100 % dalam try out, tetapi lulus 100 % dalam Unas. Jadi kegagalan Unas kali ini bukanlah 100 % kegagalan pemerintah, tetapi ini merupakan kegagalan kita semua. Dan dengan besar hati kita harus mengatakan bahwa Unas memang sebuah kontroversi.
Penyelewengan Unas sebenarnya sudah dapat di ketahui dari tahun-tahun awal pelaksanaan Unas. Tidak bervariasinya jawaban yang benar dan Nilai Unas (NUN) di suatu sekolah sebetulnya sudah dapat digunakan sebagai indikasi awal bahwa ada penyelewengan. Tetapi budaya ABS (asal bapak senang) rupanya telah mendarah daging dalam dunia pendidikan, sehingga bukan pihak panitia penyelenggara saja yang melakukan pelanggaran, tetapi pihak-pihak lain juga melibatkan diri untuk mengamankan lulus 100 %. Karena dengan kelulusan 100 % maka para bapak akan senang, dan juga kredibelitas sekolah di mata masyarakat akan meningkat.
Diakui atau tidak pelaksananan Unas selama ini telah mencetak generasi pembohong. Siswa tidak lagi peduli dengan kejujuran, tetapi mereka menghalalkan semua cara untuk lulus, salah satunya dengan melakukan kebohongan dan kecurangan. Dengan tidak bermaksud menyinggung siapapun, marilah kita ambil hikmah dari kejadian ini. Yang Maha Kuasa berkenan memperingatkan kita lewat kejadian ini, bahwa kecurangan dan kebohongan telah menjadi konsusmsi legal bagi generasi kita lewat pelaksanaan Unas. Mari kita renungkan semua hal yang telah terjadi tanpa harus mencari-cari pembelaan diri dan mencari kambing hitam atas kejadian ini. Sambil mencari solusi ysng baik demi kemajuan pendidikan tanah air.
Mari kita cari jalan tengah dari masalah ini. Unas tetap diadakan sebagai standartisasi pendidikan tetapi bukan sebagai penentu kelulusan Nilai yang diperoleh dari Unas tetap akan menjadi acuan dan syarat bagi Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). Dengan demikian siswa tetap akan berjuang untuk mendapatkan nilai yang baik, supaya dapat ikut SPMB. Disamping itu bagi siswa yang akan bekerja maka nilai NUN juga dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan bahkan persyaratan untuk diterima bekerja. Bila hal ini dilaksanakan maka mutu kelulusan akan lebih baik, karena siswa secara tidak langsung akan terpacu untuk memperoleh NUN yang tinggi.
Kembalikan hak kelulusan pada sekolah (guru). Yang tahu tentang kwalitas diri siswa adalah gurunya. Sangat tidak adil apabila ada siswa yang sehariannya pintar, tetapi karena sesuatu hal, sakit misalnya pada waktu mengikuti Unas, dan hal ini menyebabkan dia memperoleh nilai jelek dan tidak lulus. Dan menjadi sebuah kontroversi bila siswa yang kesehariannya tidak pintar tapi karena curang dan mandapatkan bantuan jawaban akhirnya lulus dengan NUN yang baik. Oleh sebab itu memakai NUN sebagai standart kelulusan merupakan hal yang perlu dikaji ulang. Dengan besar hati hendaknya pemerintah dapat mengevaluasi kembali pelaksanaan UNAS. Kembalikan kedaulatan guru untuk meluluskan siswanya. Dengan kembalinya hak kelulusan pada guru, maka kegiatan sistematis untuk mencurangi Unas akan terminimalisir dengan sendirinya.
Kegagalan Unas kali ini hendaknya menjadi sebuah pelajaran yang baik bagi kita semua. Siswa-siswa Indonesia adalah pemegang medali olimpiade internasional untuk semua mata pelajaran yang di lombakan. Di mata dunia siswa kita mempunyai martabat yang tinggi. Hendaknya momen ini menjadikan kita sadar bahwa anak Indonesia adalah anak-anak berkualitas. Jangan ajari mereka untuk curang dan berbohong. Stop sampai disini tragedy ini. Dengan besar hati dan lapang dada mari kita benahi ulang masalah pendidikan kita.
Senin, 15 Juni 2009
Hidup Harus Bermakna
(Kisah Sepotong Batang Pisang)
Ada sebatang pisang yang tumbuh di depan rumah. Karena menurut adat kampung itu, pisang tidak boleh di tanam di depan rumah, maka pemilik rumah menebang pisang itu. Sampai ke pangkalnya si pisang di potong, sehingga tidak nampak lagi batangnya, semua rata dengan tanah. " Hem... sekarang tidak ada lagi pisang di halaman depan rumahku". kata si pemilik rumah.
Dua hari kemudian, si pemilik rumah kaget karena dari bekas potongan batang pisang yang telah rata dengan tanah tumbuh tunas baru. Si pemilik rumah kemudian mengambil cangkul, " Kali ini akan ku cangkul batang pisang itu, biar tidak tumbuh lagi". Di cangkulnya tunas itu lebih dalam lagi.
Belum genap satu minggu waktu berlalu, dari bekas batang pisang yang telah di cangkul itu tumbuh kembali tunas baru. " Hebat benar pisang ini ", seru si pemilik rumah dengan kagum. Karena kekaguman itu si pemilik rumah tidak lagi memotong batang pisang itu. Pisang itu di biarkan tumbuh dengan subur. Dan karena tanah di halaman itu memang subur, maka pisang itu tumbuh dengan pesat. Daun-daunnya hijau segar, pelepahnya kokoh dan batangnya segar penuh air. Si pemilik rumah sering mengambil daunnya untuk keperluan memasak pepes ikan.
Pada akhirnya pisang itu berbuah. Buahnya yang besar-besar dengan tandan yang banyak, dan kokoh membuat burung pipit merasa aman bersarang di sana. Dan ketika buah itu telah mulai menguning maka si pemilik rumah memotong pisang itu. Buahnya yang berwarna kuning sangat manis rasanya. si pemilik pisang menjual sebagian dan yang sebagian di buatnya pisang goreng.
Setelah di potong untuk di ambil buahnya, ternyata pada sisa batang pisang itu tidak lagi tumbuh tunas, aneh memang..... tetapi inilah kenyataan. Si pisang telah memberikan teladan pada kita betapa hidup adalah sebuah perjuangan. Bukan hidup tidak boleh berhenti walaupun kenyataan hidup menghendaki demikian. Kegagalan, kemiskinan, broken home, penyakit bukanlah alasan untuk mengakhiri kehidupan ini. Seperti pisang walaupun di potong berkali-kali, tetapi tetap ingin hidup kekuatan dan semangat hiduplah yang akan menjadikan kita tetap bertahan dan bukan jadi pecundang.
Teladan kedua dari pisang adalah... Hidup Harus Bermakna !!. Walaupun kenyataan hidup demikian menyakitkan di potong berkali-kali, tetapi ketika pisang di biarkan hidup maka banyak manfaat yang diberikan pada sekitarnya. Bagi burung pipit pisang menjadi rumah yang aman. Bagi si pemilik, pisang mempunyai nilai ekonomi, seluruh bagian dirinya mempunyai fungsi. Daunnya, batangnya, buahnya mempunyai manfaat bagi pemilik. Sebelum berakhir, hidup harus penuh makna. selamat memaknai hidup ini..
PUISI
Renung
Derai ombak di laut lepas
Gemuruh topan awali badai
Gemulai tarian dedaunan
Mengukir tanya dalam hati
Adakah penyebab semua ini
ketika semua tiada jawab
tetapi nyata semua gejala
tsunami renung melanda diri
selaksa syukur penuhi kalbu
benamkan hati dengan sejuk
sadar diri lampaui ego
aku tahu
angin petunjuk kearah yang sama
menuju puncak tak bertepi
kekaguman diri, akan KaryaMu
dua kata memaknai semua
KEBESARAN ILLAHI
menjadi jawab semua tanya
Rabu, 10 Juni 2009
Semua Karena Cinta
Cinta, demikianlah hakekat isi dunia. Seluruh kehidupan sebenarnya di gerakkan oleh cinta. Seekor induk ayam akan mempertaruhkan hidupnya bertarung dengan elang, karena cinta pada anak-anaknya. Seorang sahabat saling membunuh karena cinta pada tanah airnya. Seorang koruptor melanggar norma dan etika, gasak sana, garong sini karena ingin menunjukan cintanya pada sang istri dengan membelikan mobil mewah, rumah megah walau bukan dengan rizkinya. Sukrasana rela menyerahkan nyawanya pada Sumantri kakaknya karena cinta pada sang kakak. Thi Pat kai harus reinkarnasi seribu kali karena cinta, hingga ada slogan terkenal yang selalu keluar dari mulutnya " dari dulu beginilah cinta, deritanya tak pernah berakhir."
Mencinta, selalu memberi bukan meminta, memberi diri sepenuh hati, memberi jiwa sepenuh raga. Cinta selalu mengerti, memahami, melayani. Cinta selalu siap berkorban, dalam derita, dalam air mata. Cinta juga selalu penuh bahagia, bertabur senyum, berhias gelak tawa. Cinta adalah sebuah motivasi, sekaligus sebuah tujuan. Cinta adalah sebuah rasa dan karsa yang sulit untuk diartikan, tetapi nyata dan selalu bermakna.
Cinta akan tetap ada selama dunia ada. Mengalir dari satu hati ke selaksa jiwa. Cinta membuat berjuta opini, menghasilkan ribuan karya, memaknai semua syair dan melodi. Cinta akan tetap menjadi cerita dan berita, melandasi setiap jejak kaki, mengukir tiap relief dalam balok-balok sejarah. Api Cinta Tak Pernah Padam, selalu berkobar membakar tiap hati, menyalakan asa di tiap jiwa. Mari mencintai dengan hati, memaknai hidup dengan nafas cinta. Cinta ........
Langganan:
Postingan (Atom)
