Senin, 15 Juni 2009

Hidup Harus Bermakna

(Kisah Sepotong Batang Pisang)
Ada sebatang pisang yang tumbuh di depan rumah. Karena menurut adat kampung itu, pisang tidak boleh di tanam di depan rumah, maka pemilik rumah menebang pisang itu. Sampai ke pangkalnya si pisang di potong, sehingga tidak nampak lagi batangnya, semua rata dengan tanah. " Hem... sekarang tidak ada lagi pisang di halaman depan rumahku". kata si pemilik rumah.
Dua hari kemudian, si pemilik rumah kaget karena dari bekas potongan batang pisang yang telah rata dengan tanah tumbuh tunas baru. Si pemilik rumah kemudian mengambil cangkul, " Kali ini akan ku cangkul batang pisang itu, biar tidak tumbuh lagi". Di cangkulnya tunas itu lebih dalam lagi.
Belum genap satu minggu waktu berlalu, dari bekas batang pisang yang telah di cangkul itu tumbuh kembali tunas baru. " Hebat benar pisang ini ", seru si pemilik rumah dengan kagum. Karena kekaguman itu si pemilik rumah tidak lagi memotong batang pisang itu. Pisang itu di biarkan tumbuh dengan subur. Dan karena tanah di halaman itu memang subur, maka pisang itu tumbuh dengan pesat. Daun-daunnya hijau segar, pelepahnya kokoh dan batangnya segar penuh air. Si pemilik rumah sering mengambil daunnya untuk keperluan memasak pepes ikan.
Pada akhirnya pisang itu berbuah. Buahnya yang besar-besar dengan tandan yang banyak, dan kokoh membuat burung pipit merasa aman bersarang di sana. Dan ketika buah itu telah mulai menguning maka si pemilik rumah memotong pisang itu. Buahnya yang berwarna kuning sangat manis rasanya. si pemilik pisang menjual sebagian dan yang sebagian di buatnya pisang goreng.
Setelah di potong untuk di ambil buahnya, ternyata pada sisa batang pisang itu tidak lagi tumbuh tunas, aneh memang..... tetapi inilah kenyataan. Si pisang telah memberikan teladan pada kita betapa hidup adalah sebuah perjuangan. Bukan hidup tidak boleh berhenti walaupun kenyataan hidup menghendaki demikian. Kegagalan, kemiskinan, broken home, penyakit bukanlah alasan untuk mengakhiri kehidupan ini. Seperti pisang walaupun di potong berkali-kali, tetapi tetap ingin hidup kekuatan dan semangat hiduplah yang akan menjadikan kita tetap bertahan dan bukan jadi pecundang.
Teladan kedua dari pisang adalah... Hidup Harus Bermakna !!. Walaupun kenyataan hidup demikian menyakitkan di potong berkali-kali, tetapi ketika pisang di biarkan hidup maka banyak manfaat yang diberikan pada sekitarnya. Bagi burung pipit pisang menjadi rumah yang aman. Bagi si pemilik, pisang mempunyai nilai ekonomi, seluruh bagian dirinya mempunyai fungsi. Daunnya, batangnya, buahnya mempunyai manfaat bagi pemilik. Sebelum berakhir, hidup harus penuh makna. selamat memaknai hidup ini..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar