Selasa, 16 Juni 2009

Kekerasan Di Sekolah Penyebab Dan Solusinya


Kekerasan dalam dunia pendidikan kembali terjadi. Satu bentuk kekerasan terjadi dilakukan siswa kepada siswa yang lain. Seorang siswa harus mendapatkan perawatan yang serius karena dikeroyok oleh teman satu sekolahnya. Bukan itu saja, kekerasan juga terjadi dan dilakukan oleh guru kepada siswanya. (radar bojonegoro 4 maret 2009). Sekolah yang seharusnya menjadi tempat untuk berprestasi, tetapi menjadi ajang premanisme. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat belajar tentang norma-norma kemasyarakatan yang baik, tetapi dijadikan rimba tanpa hukum. Siapa yang kuat, siapa yang berkuasa, siapa yang memimpin merekalah yang diatas dan memiliki legalitas untuk menindas yang lain. Kekerasan sering terjadi bukan dalam bentuk kekerasan fisik, tetapi juga kekerasan psikis. Hal-hal yang sepele dapat menjadi alasan untuk melakukan kekerasan. Bahkan terkadang kekerasan dilakukan tanpa alasan.

Mengapa terjadi kekerasan diantara siswa ? Kekerasan antar siswa merupakan bagian terbesar dari kasus kekerasan di sekolah. Kasus ini bagaikan gunung es, yang terekspos oleh media adalah kekerasan yang terlaporkan. Sedangkan kasus kekerasan yang tak pernah dilaporkan jumlahnya tentu lebih banyak. Siswa adalah individu yang sedang belajar. Belajar mengenali diri, dan juga belajar mengenali lingkungan. Kekerasan yang terjadi antar siswa, biasanya dipicu oleh pencarian jati diri siswa, disinilah kadang terjadi konflik psikologis dalam diri siswa yang apabila tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan masalah. Banyak cara yang ditempuh oleh siswa untuk menemukan jati dirinya. Pencarian jati diri yang positif siswa lakukan dengan cara berprestasi dan berkompetisi dalam bidang akademik maupun dibidang olah raga dan seni. Tetapi menjadi hal yang berbahaya bila pencarian jati diri ini mereka lakukan dengan adu kekerasan.

Guru harus berperan aktif dalam membina siswa yang terindikasi salah arah dalam pencarian jati diri ini khususnya guru konseling/BK. Tetapi kerjasama antara pihak sekolah dengan orang tua siswa merupakan formulasi yang tepat dalam menangani masalah kekerasan diantara siswa. Usia siswa yang masih remaja memerlukan perhatian yang cukup. Guru tidak mungkin sendirian menyelesaikan konflik psikologis dalam diri siswa. Perhatian dari orang tua akan sangat membantu dalam penyelesaian ini. Tetapi terkadang yang terjadi adalah sebaliknya, orang tua terlalu sibuk dengan urusan mereka dan kurang memperhatikan perkembangan psikologis anaknya. Ketika kemudian terjadi masalah, barulah mereka kelabakan. Kerjasama antara sekolah dan orang tua siswa dalam membantu mengelola konflik psikologis siswa dapat meredam kekerasan antar siswa.

Menjadi suatu pertanyaan besar jika kekerasan terjadi dari pihak guru kepada siswa. Hal ini sangat memalukan dunia pendidikan. Tetapi apakah benar guru melakukan kekerasan pada siswanya ? hal itu masih perlu dipertanyakan. Bila siswa berprestasi maka harus diberi hadiah dan bila siswa tidak disiplin atau melakukan penyimpangan prilaku, maka harus diberikan hukuman sebagai pembelajaran psikologis bagi siswa. Setiap guru mempunyai cara tersendiri dalam menyikapi pelanggaran disiplin/penyimpangan prilaku yang dilakukan oleh siswa. Ada sebagian guru yang cukup dengan memberikan hukuman berupa tugas-tugas akademik. Ada guru yang mungkin memberikan hukuman berupa perlakuan fisik, seperti menyuruh siswa berdiri didepan kelas, mencubit bagian tertentu di tubuh siswa (biasanya telinga), atau hukuman fisik lain yang sifatnya mendidik. Tetapi hal ini terkadang disalah tafsirkan sebagai suatu bentuk kekerasan.

Kalau toh terjadi kekerasan dalam arti yang sebenarnya, memang hal itu perlu disayangkan dan dipertanyakan. Mengapa hal itu terjadi ? mengupas jawaban dari pertanyaan ini tidaklah mudah, tetapi bila dirangkum jawaban itu menjadi suatu kesimpulan, maka kesimpulannya adalah “kekerasan terjadi karena kurang harmonisnya komunikasi antara siswa dan guru. Kekerasan terjadi juga karena kejenuhan psikologis guru”. Dua hal ini dapat menjadi pijakan bagi pencarian solusi agar kekerasan disekolah dapat diminimalkan.

Supaya terjalin komunikasi yang harmonis dan mengurangi kejenuhan maka harus ada suatu program penyegaran/refreshing bersama. Program penyegaran ini dapat dilakukan secara berkala. dalam program ini diharapkan ada sambung rasa antara guru dan siswa sehingga miskomunikasi dapat diminimalkan. Siswa jadi lebih memahami karakter dan pribadi gurunya, demikian juga sebaliknya. Program ini bukan hanya mempererat hubungan antar siswa dan guru, tetapi juga siswa dengan siswa.

Tidak perlu mengeluarkan dana yang besar untuk refreshing. Tidak perlu pergi kesuatu tempat yang jauh untuk berekreasi. Acara sederhana bisa menjadi sarana refreshing yang efektif. Berkebun, persami (perkemahan sabtu malam minggu), lomba memancing, membersihkan kelas bersama, jalan sehat, out bond sederhana dan masih banyak kegiatan yang dapat dilakukan bersama dengan biaya murah. Sesederhana apapun kegiatan yang dilakukan, tetapi jika setiap partisipan menyadari tentang pentingnya kegiatan itu, maka tujuan kegiatan akan tercapai.

“Kekerasan bukan solusi !
Mendengar, Memperhatikan dan Mengerti
adalah tindakan bijaksana yang akan menghapuskannya.”






Tidak ada komentar:

Posting Komentar